Tuesday, September 23, 2008

Mengungkap Rumah Adat Masyarakat Belitung (Belitong/Biliton)

Kehidupan masa kini Belitong adalah bagian dari masa lalunya, sejarah telah mengantarkannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kebudayaan yang lebih luas. Kebudayaan masa lalunya; adanya kerajaan yang berdaulat, oleh raja yang memimpin rakyatnya dengan arif dan bijak selama turun-temurun.

Itu memaknai bahwa sistim kepemimpinannya memakai garis-garis haluan hukum yang adil hingga kemudian tatanan kebudayaan dan peradaban itu dirusak oleh penjajah Belanda yang ingin menguasai kekayaan timahnya. Peradaban Melayu Belitong yang tercermin dalam peninggalan sejarah serta yang tertanam dalam pemikiran dan kesahajaan masyarakatnya; bahasa, rumah, matapencaharian, pemeliharaan hutan, tradisi ritual, kerukunan, dan lain sebagainya merupakan cermin dari sejarah masa lalunya yang arif.

Pengetahuan ini tentu belum menjadi milik umum Bebarapa bagian tulisan yang diturunkan lewat media ini adalah substansi dari sejarah yang pernah ada dan kini masih tersimpan dalam ingatan para sepuh dan manuskrif yang pernah ditulis pada tahun 1937 oleh pendahulu mereka yaitu K.A. Haji Abdul Hamid, karenanya Penulis amat berterima kasih sedalamnya kepada seluruh keluarga besar Kerukunan Keluarga Cakraningrat, serta ketua Sepuh Adat Keluarga Besar Cakraninggrat, Datuk Mpu K.A. Idris Alie.

Rumah adat merupakan identifikasi mutlak sebagai sebuah perwujudan identitas budaya dan kebudayaan sebuah bangsa; etnik yang menempati sebuah kawasan yang mempunyai garis tegas tentang perangkat adat untuk mengatur wilayah adatnya. Maka rumah adat bukan hanya sebagai perangkat pemersatu; tempat bertemu, membahas segala persoalan yang menyangkut tentang kehidupan baca berkebudayaan; norma, hukum, ekonomi, politik, kesenian, bahkan adat istiadat atau tradisi keseharian, bahkan menyangkut hal yang bersipat insidentil seremonial.

Tetapi lebih daripada semua itu, ia sebagai tempat sublimasi bagi generasi muda; pada masa lampau semua tentang pengajaran agama di ajarkan di sana. Rumah adat seperti yang diidentifikasikan tersebut sudah pernah ada di wilayah adat Belitong. Rumah adat tersebut dibangun oleh para kepala adat wilayah Belitong yaitu para Depati yang memerintah pada tiap-tiap zamannya.

Seperti kita ketahui bahwa pemerintahan yang pertama di Belitong ada di kawasan Balok (Belantu) yang di kenal dengan Kerajaan Balok Lamak, pemerintahan di kawasan itu di perintah oleh Kiai Mas'ud atau dikenal juga dengan sebutan Kiai Gegedeh Ya'kob yang merupakan keturunan langsung Bupati Mataram pertama (Kiai Gede Pamanahan 1546-1582) yaitu Kiai Mas'ud atau sebagai Depati Cakraningrat I (pertama) dan kemudian menurunkan trah sampai kepada Depati cakraningrat ke IX (Depati yang memerintah di Kota Tanjung Pandan mulai dari Depati Rahad sebagai Depati Cakraningrat ke VIII hingga Depati Endek sebagai Depati terakhir atau ke X) Rumah adat tersebut selalu dibangun tidak jauh dari rumah tinggal Depati yang memerintah pada masanya.

Karenanya di masa-masa terakhir pemerintahan para depati Cakraninggrat atau sebelum peran Depati selaku pimpinan yang berperan secara adat "dilenyapkan" oleh pemerintah Kolonial Belanda, rumah adat yang terakhir tersebut ada di jantung kota Tanjung Pandan berdiri di dekat mesjid Jami' Kota Tanjung Pandan dengan sebutan Rumah Gede.

Rumah Gede tersebut setelah ketiadaan pemerintahan Depati (pemerintahan yang diatur secara adat menurut aturan kerajaan yang turun temurun) Maka pemerintah Belanda mengangkat orang yang dianggap bisa diarahkan dan dikendalikan oleh Penguasa Belanda (sejak pemerintahan Depati K.A. Rahad, Trah keluarga Kerajaan sempat dipinggirkan oleh Belanda dengan politik adu domba yang dikenal dengan sebutan Devide Et Invera dan Depati K.A. Rahad tidak mendapat mengakuan oleh Belanda.

Pada tahun 1826 belanda menempatkan Pangeran Syarif Hasyim dari Palembang. Pemberontakan meletus dan Pangeran Syarif Hasyim meningal dunia, kemudian tahun 1837 Belitung di pimpin oleh Mas Agus Asik dari Pulau Lepar sampai tahun 1838 dan kemudian kekuasaan diserahkan kembali kepada Depati Rahad dan ia baru dilantik dengan gelar Cakraninggrat ke VIII pada 1juli 1838 hingga meninggal dunia tahun 1854.kedian digantikan oleh adiknya K.A. Mohamad Saleh Untuk mengurangi pengaruh Depati terhadap rakyatnya, pada tahun 1873 pangkat Depati dihapus oleh Belanda.

Sedang pada tahun 1879 hingga tahun 1890, pangkat Depati diadakan kembali oleh Belanda dan Belanda mengangkat K.A. Endek yaitu keponakan yang juga menantu dari K.A. Mohamad Saleh dengan gelarDepati Cakraningrat ke X. gelar ini tidak diakui oleh rakyat karena pemberian Belanda) Rumah Adat Masa Lalu Pada masa kolonial Belanda, peran rumah adat di Belitong menjadi kurang berfungsi karena campur tangan Belanda dalam menentukan kebijakan Depati selaku pemegang keputusan adat terhadap rakyatnya bahkan Belanda serlalu campur tangan dalam menentukan Kekuasaan Depati; hingga keputusan depati selalu tidak dibahas diam-diam tidak di rumah adat. (Perlu ditegaskan hukum adat, adalah hukum yang juga mencakup hal ihkwal keseharian, seperti tradisi perniagaan, pertanian, mengolah hasil alam; hutan dan pertambangan timah) sudah dikacaukan oleh Belanda karena Belanda menginginkan keuntungan secara ekonomi.

Sedang perihal adat yang menyangkut tradisi ritual seperti memang tidak dicampuri oleh Belanda, seperti adat perkawinan dan perayaannya atau begawai, adat selamatan anak yang lahir, adat selamatan kampong, adat selamatan tahun. Rumah adat atau Rumah Gede tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena Belanda telah mengintervensi segala kebijakan Depati yang di akui oleh rakyatnya dengan berpegang pada adat, yaitu hukum tradisi sejak kerajaan pertama didirikan.Tetapi rumah adat yang ada di kota Tanjung Pandan tetap berdiri hingga akhir tahun 1950.

Fungsi rumah adat atau rumah gede tersebut setelah era kemerdekaan hanya dimanfaatkan sebagai tempat mengaji atau belajar membaca alquran oleh masyarakat setempat. Kemudian musnah dikarenakan tidak adanya lagi perhatian, baik dari pihak pemerintah maupun pihak keluarga Depati. Fungsi esensial rumah adat di zaman Belanda sudah ditiadakan, seiring dengan peran Depati yang sudah dipinggirkan oleh Belanda.

Tetapi rumah adat sebagai alat pemersatu tempat para tetua bermusayawarah dan mufakat, tempat kesenian digelar, tempat bermacam tradisi adat digelar, tentu tidak terkikis habis dalam pikiran tiap anak negeri Belitong. Karena itu sebagai anak negeri yang merdeka dari kungkungan penjajah, anak negeri yang mau membangun dan memfungsikan Rumah Adat itu kembali guna disesuaikan dengan kebutuhan masa kini, perlu kita dukung dengan sepenuh hati. karena ia tidak hanya sebagai simbol sebuah eksistensi sebuah negeri yang beradat tapi lebih dari itu, sebagai barometer kedepan; bahwa spirit anak negeri tidak semata dibangun dengan materi sebagaimana yang di anut oleh paham hedonisme masa kini.

Fungsi rumah adat Belitong untuk masa kini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan kebudayaan saat ini. antara lain tidak hanya sebagai simbolisasi kenegerian (bahwa wilayah Belitong adalah wilayah adat yang otonom, pernah ada kerajaan dan pemerintahan yang pada masanya ada hukum adat yang mengatur segala norma kehidupan atau penghidupan masyarakatnya) tetapi juga rumah adat tersebut akan berfungsi sebagai objek studi, wisata, rumah pergelaran kesenian, pergelaran adat tradisi, bahkan sebagai rumah duta di mana para sesepuh adat; pemimpin negeri, penghulu adat, pemangku adat dari luar wilayah adat dapat saling bersitalurahim dengan takzim.

Sebagai objek studi dan wisata, tentu kita akan mendapat gambaran yang realistis tentang sejarah yang pernah ada, sementara yang sudah tertanam di dalam pemikiran sebagian masyarakat bahwa sejarah Belitong hanya ada tergolek pada benda-benda sejarah di museum kota Tanjung Pandan dan museum Badau. Tentu itu hanya sebagian kecil dari pernak-pernik sejarah. Bagaimana sejarah lainnya, seperti tradisi pemerintahannya dari masa ke masa, tradisi keseniannya, tradisi adat istiadat lainnya.

Replikasi dan pergelaran yang menyangkut hal ikhwal kebudayaan tersebut bisa di gelar di rumah adat tersebut. Spirit Rumah Adat Membangun rumah adat yang refresentatif tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan meski pemerintah memberikan dukungan penuh karena rumah adat erat kaitannya dengan masa lalu yang sudah menjadi sejarah, bukan saja sejarah adatnya tapi juga peran dari para keluarga depati selaku pewaris pelaksana adat sebagaimana yang telah diturunkan oleh para nenek moyang terdahulu.

Dan tak kalah pentingnya adalah bahwa masyarakat mesti menerima ini sebagai sebuah kekayaan negeri, sebuah eksotisme yang tak dimiliki wilayah lain; bahwa Belitong merupakan sebuah wilayah yang bersatu secara adat; bahasa melayu Belitong yang sampai kini tetap terjaga di hampir setiap sudut manapun di wilayah Belitong, kerukunan masyarakat, kemufakatan antarwilayah, masyarakat yang rendah hati, kearifan lokal terhadap lingkungan alam. (Pembabatan hutanoleh pengusaha adalah cerita lain yang tak terpungkiri) sebagai rakyat asli akan berpikir seribu kali untuk menghianati kearifan lokal, kecuali ia betul-betul penghianat dan tak tahu adat!

Eksotisme yang telah tumbuh secara adat turun temurun; tradisi lokal begalor, bertani, melaut, berburu, bebanjor, nirok, nanggok, dan mengekploitasi hasil hutan, setidaknya kini masih ada dalam sisa ingatan orang-orang Belitong moderen tetapi masih dilakukan sebagian masyarakat di desa-desa tradisional Belitong. Kearifan lokal, eksotisme adat, bahasa melayu Belitong; adalah spirit yang terbangun sejak kerajaan dengan pemimpinnya yang bijak. Ketentraman Belitong akan selalu terjaga jika tidak dirusak oleh orang-orang yang tahu adat Belitong.

Perlu dicatat kerendahhatian Masyarakat Belitong terhadap siapa pun, orang manapun. adalah cerminan dari turunan terdahulu. (sejarah mengingatkan; masuknya Kiai Mas'ud atau Kiai Gegedeh Ya'kob dari Kerajaan Mataram abad ke 15 dan kemudian menaklukan kerajaan kecil yang masih menganut hindu di Belitong) bukan semata ia haus kekuasaan tapi lebih dikarenakan ia hanya ingin hidup tentram bersama rakyatnya! Akar ketentraman adalah kearifan.

Karenanya selama pemerintahan turunan Cakraningrat di Belitong tidak pernah terjadi pertumpahan darah karena perebutan kekuasaan dan penghianatan. Kecuali adanya hegemoni dari pihak luar sekitar tahun 1755 (masuknya Tengku Akil dari kerajaan Siak untuk menguasai Belitong dan kemudian membunuh Raja K.A. Mohamad Hatam atau Cakraninggrat ke VII yang berkedudukan di Hulu Sungai Cerucuk) hingga kemudian anaknya K.A Rahad meski membuat pertahanan di muara Suangai Cerucuk dan mendirikan kerajaan baru yang kini menjadi kota TanjungPandan.

Sebuah rumah adat mesti memiliki aura atau ruh yang menjaga keagungan dan keanggunannya baik secara fungsional maupun visional. Dalam hal ini tentu tidak akan dibangun hanya semata berdasarkan pada keinginan atau pemenuhan pada infrastruktur yang lazim sebagaimana kita membangun kebutuhan sarana publik karena ia memiliki semacan aura yang tegas!.Pada masa dulu munculnya aura ini karena ada wibawa raja dan kesetiaan rakyatnya. Maka sebuah rumah adat masa dulu sebagai sebuah rumah dimiliki secara komunal untuk kepentingan bersama dibawah aturan adat dan wibawa raja hingga rumah tersebut menjadi terjaga dan terpelihara.

Namun ketika kini akan diwujudkan dalam masa yang berbeda tetapi aura dan ruh yang akan tertanam teentu akan menjadi berbeda namun tingkat kecerdasan masyarakatlah yang akan mendukung aura tersebut bahwa mereka adalah pewaris dan pemelihara kekayaan eksotis tersebut. Hal itu tentu mesti memperhatikan spirit yang pernah ada bahkan hingga kini spirit itu masih tersimpan sebagai pusaka adat; baik itu yang bersipat pemikiran (keturunan dari pelaksana atau pemangku adat), materi (benda-benda pusaka), atau aturan adat (baik tertulis maupun lisan yang diwariskan secara turun temurun baik di masyarakat maupun di keluarga depati) Bentuk Fisik dan fungsi Rumah Adat Bentuk fisik rumah adat Belitong sangat sederhana, merupakan rumah Panggong; rumah yang ditopang tiang dengan bahan kayu pilihan terbaik. Kesemua bahan bangunan terbuat dari kayu sampai ke atapnya yang disebut dengan atap sirap bangunan terbagi menjadi tiga bagian; ruang teras, ruang tengah atau utama, ruang penyangga, dan ruang belakang.Ruang teras merupakan ruang publik; seperti layaknya ruang santai jadi hal-hal yang tidak begitu penting bisa dibicarakan di sini, bahkan ketika para petinggi kerajaan menonton pertunjukan di halaman Rumah Gede akan selalu duduk di sini.

Ruang utama adalah ruang besar yang bisa menampung banyak orang, tidak memilikisekat atau kamar, tetapi ada partisi artistic sebagai sekat sementara berguna untuk bersalin pakaian dan lain-lain.ruang utama ruang yang selalu terjaga. Ruang perantara selalu ada tangga di sisi kiri dan kanannya, dan ada air wudhu yang di tempatkan di dalam tempayan atau guci. Ruang ini bukan hanya sebagai penghubung antara ruang belakang dan ruang utama, tapi dipakai juga sebagai pintu darurat jika para tamu mau ke toilet karena secara adat kesopanan tidak diperkenankan melewati pintu depan. Pintu depan atau utama hanya boleh dipakai untuk datang dan pulang.

Dan ruang penyangga juga berfungsi sebagai ruang pengatur atau pengarah acara; antara keperluan para majelis yang sedang bermusyawarah di ruang utama dengan keperluan seperti pengaturan konsumsi di ruang belakang, karena makanan para majelis mesti aman dari berbagai ancaman dan keamanan. Ruang belakang merupakan tempat menyimpan semua perkakas keperluan rumah adat dan kepentingan majelis; misalnya rehal untuk meletakkan alquran, tikar untuk sholat,dan lain-lain,bahkan peralatan makan-minum, peralatan sirih pinang, Dan yang terakhir tentu saja toilet yang terletak terpisah dari bangunan utama, ia ada di belakangbangunan utama.

Halaman rumah adat relative lebih luas, selalu dipakai sebagai ruang pertunjukan, tempodulu pertunjukan yang digelar antara lain seperti pencaksilat, beripat rutan, beregong,becampak, musik gambus, tari-tarian, dan lain sebagainya

Penulis adalah Ian Sancin di Begalor.comDirektur Bidang Lintas Sosial Budaya SAPIR INSTITUTE ( sebuah lembaga studi, kajian dan penelitian )





raziey

Suku Laut di Belitung Miliki Seni Budaya Unik

Oleh: ILHAM KHOIRI

Sungai Kerucuk di Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, terasa begitu sibuk. Beberapa nelayan hilir mudik membawa jaring dengan sampan kecil. Beberapa nelayan lain menyeberangi air di pinggiran untuk naik ke perahu yang ditambat di tengah sungai.

Pagi yang cerah di akhir bulan Mei lalu itu memang saatnya nelayan berangkat menangkap ikan di laut lepas.

Aktivitas di Pelabuhan Tanjung pandan yang terletak di seberang sungai juga tampak berdenyut. Di pinggiran sungai sejumlah bocah bermain di tengah lumpur sambil melihat rombongan nelayan yang mulai menjalankan perahu.

”Kami mau menangkap ikan. Kalau dapat banyak, kami bisa segera pulang nanti sore atau malam. Kalau lagi sepi, kami menginap beberapa hari lagi di laut sampai dapat ikan,” kata Saparuddin (20) sambil berjalan menghampiri beberapa kawannya yang telah di perahu.

Saparuddin adalah salah satu dari sekitar 50 keluarga suku Laut yang tinggal di Desa Juru Seberang. Suku yang juga disebut suku Sawang itu hidup berkelompok di tengah komunitas nelayan Belitung yang menetap di tepi muara Sungai Kerucuk yang terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Pandan.

Mereka dikenal sebagai nelayan penangkap ikan yang ulung, mahir membuat berbagai jenis perahu, dan ahli navigasi.

Sebagaimana namanya, suku Laut sangat mencintai laut. Sebelum menetap di Desa Juru Seberang tahun 1985, suku tersebut benar-benar menjadi ”manusia perahu” yang hidup di atas perahu di tengah lautan. Mereka melakukan segala kegiatan di atas perahu dan membangun kebudayaan laut yang unik.

”Kami lahir, besar, menikah, dan bekerja di atas laut. Kami tidak bisa dilepaskan dari laut karena laut itulah hidup kami,” kata Ketua suku Laut Menan. Menan menggantikan posisi ketua adat sebelumnya, Inal, sejak tahun 1986. Sebelum Inal, suku itu dipimpin ketua adat yang bernama Tumpak.

Setelah menetap di Desa Juru Seberang hingga sekarang, suku Laut masih terus berpetualang sampai bermil-mil ke laut lepas. Dengan mengandalkan jaring atau pancing tradisional, mereka bisa menangkap berbagai jenis ikan, seperti kakap, tenggiri, ilak, terisi, atau bawal.

Mereka juga terbiasa berburu cumi-cumi di malam hari dan menyelam dengan kompresor untuk menangkap teripang atau ketimun laut (holothurians). Hasil tangkapan dijual di pelabuhan yang disinggahi atau pasar ikan terdekat.

Sekitar tahun 1980-an, teripang, atau biasa disebut gamat, menjadi primadona komoditas laut. Karena dianggap bergizi tinggi dan bisa bermanfaat untuk pengobatan, teripang menjadi produk yang sangat mahal.

Para nelayan suku Laut dikenal sebagai pemburu teripang yang sangat andal. Hanya bermodalkan perangkat seperti kompresor mereka mampu menyelam sampai kedalaman puluhan meter ke dasar laut.

”Kalau bisa menyelam sampai kedalaman 30 meter dan dapat teripang super, untungnya besar. Satu kilogram teripang kering bisa laku antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta,” kata Jima (38), anggota suku Laut yang tinggal di pinggiran Sungai Kerucuk. Teripang super yang dimaksud adalah teripang pasir (holothuria scabra) yang banyak diburu untuk bahan pengobatan.

Di laut berabad-abad

Menurut sejarawan yang menjadi Ketua Kelompok Peduli Budaya Belitung Kabupaten Balitung Salim Yan Albers Hoogstad, suku Laut termasuk ras Proto Melayu yang memilih tinggal di laut sejak abad-abad permulaan Masehi.

Eksistensi mereka tercatat dalam naskah-naskah peneliti Belanda saat menjajah Indonesia. Belanda menempatkan suku Laut dalam lapisan sosial di atas suku Melayu yang berada di tingkat keempat. Peringkat pertama ditempati Belanda, peringkat kedua warga keturunan China.

”Belanda membutuhkan suku Laut karena mereka termasuk pekerja keras. Mereka juga dikenal sebagai pelaut ulung yang dapat menangkap ikan-ikan besar tanpa merusak lingkungan laut,” kata Salim Yah.

Suku Laut juga dihargai karena memiliki seni budaya yang unik, terutama tari dan pantun. Salah satunya adalah tari campak laut, yaitu tarian yang dilakukan dalam iringan musik sambil berbalas pantun.

Pantun sering dimuati petuah-petuah nenek moyang dalam menjalani hidup. Penari yang tidak bisa membalas pantun dianggap kalah.

Bentuk seni lain adalah tari tombak duyung. Tari ekspresif itu dibawakan nelayan andal yang mampu memeragakan atraksi menombak ikan duyung di laut.

Ada juga tarian cap dengan penari yang memakai topi bermantra sambil terus berjoget hingga kerasukan roh nenek moyang. Berbagai bentuk seni itu sering ditampilkan dalam upacara Buang Jong yang diselenggarakan setiap tahun.

Namun, belakangan ini eksistensi suku Laut semakin terancam oleh desakan nelayan bermodal besar dari berbagai daerah atau mancanegara yang memiliki teknologi modern. Mereka lebih gesit mencari ikan karena menggunakan kapal besar yang dilengkapi radar pemantau ikan dan navigasi canggih.

Demi menangkap berton-ton ikan secara cepat, mereka tidak segan menggunakan jaring pukat atau kunsi, dinamit, dan bahan kimia seperti putas. Akibatnya, ekosistem laut semakin rusak dan banyak ikan yang masih kecil terbunuh sia-sia.

Situasi itu sempat diprotes puluhan nelayan suku Laut dengan berunjuk rasa di depan Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Belitung tahun 2002 lalu. Saat melaut, suku itu aktif memperingatkan nelayan yang kepergok menggunakan alat yang merusak lingkungan. Namun, ketika pemerintah kurang konsisten menindak kejahatan lingkungan, praktik penangkapan ikan yang menghancurkan ekosistem laut terus berlanjut hingga sekarang.

”Sekarang ini sudah tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah karang, terumbu karang, dan lingkungan laut hancur, semakin sulit saja mencari ikan, apalagi teripang. Mungkin yang tersisa hanya teripang jenis karang atau lontong yang harganya murah. Kadang kami sudah putar-putar di laut, tetapi terpaksa pulang dengan tangan hampa,” kata Menan.

Situasi itu bertambah runyam setelah harga bahan bakar minyak makin melambung sehingga biaya melaut pun melonjak. Untuk melaut dengan perahu kecil bermuatan lima nelayan dalam waktu lima hari saja, setidaknya dibutuhkan modal Rp 1,5 juta. Modal itu untuk membeli es balok, solar, sewa kapal, dan makanan. Setelah pulang, mereka biasanya hanya bisa membawa 100 kg ikan campuran yang laku dijual Rp 500.000.

”Uang itu dibagi untuk lima nelayan, masing-masing Rp 100.000. Hasilnya tipis sehingga modal enggak tertutupi. Kadang malah pulang tanpa membawa apa-apa,” kata Badung (53), nelayan suku Laut.

Situasi serba sulit ini mendorong beberapa anggota suku terpaksa meninggalkan kerja mencari ikan dan melirik pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, seperti mencari besi tua di dasar laut, menambang timah, atau menjadi buruh serabutan. Mereka yang bertahan melaut tetapi bermodal cekak, mudah terjerat utang para tengkulak.

Menurut Ketua Lembaga Adat Provinsi Bangka-Belitung Suhaimi Sulaiman, eksistensi dan budaya suku Laut hendaknya dijaga sebagai salah satu kekayaan tradisi Belitung. Kekayaan itu penting sebagai rujukan sejarah di tengah minimnya tradisi lokal di Bangka-Belitung yang tumbuh sejak awal Masehi.

Budayawan Willy Siswanto mengatakan, keberadaan suku Laut merupakan aset kultural yang memberikan acuan untuk mengidentifikasi budaya Bangka-Belitung.

”Budaya suku Laut memberikan sudut pandang yang lebih bijak di tengah hasrat masyarakat yang bernafsu menggerus alam untuk mengeruk keuntungan. Komitmen mereka untuk menjaga laut dapat dijadikan cermin penyadaran bahwa hidup harus selaras dengan alam,” katanya.





raziey

Tuesday, August 12, 2008

java wedding

Indonesia has many diverse cultures (an estimated number of 300 cultures and languages, among 200 million Indonesians, living on 13.677 different islands). This enormous variety in cultures has a great impact on marriage ceremonies. Every wedding in Indonesia has a different ceremony, each of them influenced by the cultures of the families involved. Every ceremony is a step in the creation of a new bound between two families.

The parents of the man (would-be-bridegroom) send an envoy to the parents of the woman (would-be-bride), proposing that their son is willing to marry their daughter. Nowadays, for practical reasons, the parents of both sides can talk directly. The parents of the couple have to approve the marriage.

Usually, the parents of the would-be-bride have a greater say, as they are the ones who will organise the ceremonies (a big wedding will require a Paés Agung (kings make-up), a small one will require a Paés Kesatrian (knight's make-up)). They are responsible for the wedding ceremonies that will be followed, such as Siraman (bathing ceremony), Midodareni (ceremony on the eve before the wedding), Peningsetan (traditional engagement ceremony), Ijab (religious marriage consecration) and other Javanese ceremonies following the wedding celebration. They will also organise the wedding reception to give family and friends the opportunity to send their blessings to the newly wed couple.

taken from: http://users.skynet.be/dvran/E_javanese.htm

raziey

Batak Wedding

It's not often that we, as foreigners in Indonesia, are given the opportunity to delve deeply into the cultural traditions of traditional Indonesian ceremonies. Recently, Hartmuth "Heinz" Kathmann and his lovely bride, Rose Merry Ginting, gave me that opportunity. Merry's father, Rakatta Ginting, served as our cultural guide as we discussed and looked at hundreds of pictures which document the traditional ceremonies in their recent marriage.

While each of the major Batak societies/tribes (Alas-Kluet, Angkola, Dairi, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, Sipirok, and Toba) are related, they have distinctive languages, customs and cultures. The traditional Batak homelands surround Toba Lake in North Sumatra. Merry Ginting is from the Ginting marga (clan) of the Karo Batak ethnic group, and her family ensured that the necessary wedding customs were followed, even though she was marrying a German national.

You Must Become a Batak, Heinz!

The primary obstacle to Heinz and Merry's marriage was the Batak tradition that a Batak can only marry another Batak, so Heinz had to be accepted into a Batak marga. Since tradition further stipulates that a man may not marry a woman from his own clan, Batak grooms have to search among the other 451 marga for a wife. Fortunately, Heinz gives traditional uis nipis textiles to family representatives in the ceremony which will ensure his entrance into the Brahmana clan.non-Batak grooms can be adopted by a willing Batak clan and thereby marry a Batak wife according to tradition.

The marga is an extensive, complex system of relationships between Batak family members within the clan and between clans. Each person, dependent on their relationship to others through parentage, sibling relationships or marriage has their own place in the relationships between clans, represented by a specific term. Unweaving this web of relationships is difficult at best and near to impossible without hours of study of the various ways in which people are considered to be related.

In Heinz's case, the adoptive family was the Brahmana clan of Merry's father's younger sister. Heinz's adoptive parents held a special ceremony to discuss and get their permission for this adoption from their related clan members. All clan members must agree, as the newly admitted son becomes their relative as well.

As the Batak are patrilineal, the discussions were held between the male elders of the Brahmana family groupings which would be affected by Heinz's joining the marga. The family grouping representatives involved in this ceremony were the:

1. puang kalimbubu - the prospective mother in-law's clan (Tarigan)
2. kalimbubu - the prospective mother's clan (Ginting)
3. sembuyak - the prospective father's clan (Brahmana)
4. anak beru - all the women in the father's clan (Brahmana women)

Heinz sat with these family grouping representatives, and gave the symbolic gifts of a uis nipis (traditional ulos When the traditional uis nipis textile is placed around Heinz's neck, he is accepted into the Brahmana clan.textile), a parang (dagger) and money, in this case a symbolic amount of Rp 12,000. The men accepted the uis nipis, and put the textile over their shoulders.

Discussions followed where Heinz and the family representatives discussed his joining the clan. At the successful conclusion of the discussions, the Brahmana family gave Heinz a uis nipis as a symbol of his acceptance into the clan. The textile was placed over his shoulders, and Heinz was then considered a son of his new parents and a full member of the Brahmana clan, with full rights and obligations, except the right of inheritance. As he was now a Batak, he could proceed with marrying Merry.

Requesting Merry's Hand in Marriage

Heinz and his new clan members took part in two traditional ceremonies (pesta adat) to seek permission to wed Merry, the ngembah belo selambar (which means to bring a sirih leaf) and the nganting manuk (which means to bring a chicken). Heinz's new family went with him to the Ginting household to conduct these traditional ceremonies. As the prospective groom, the cost of the ceremonies was Heinz's responsibility.

Ngembah belo selambar opens with the giving of the traditional gift of kampil. As dictated by tradition, Heinz gave kampil to his sembuyak, kalimbubu, puang kalimbubu, anak beru and perbibin (maternal aunts).

The kampil is a closed basket, which is woven from pandanus leaves. It contains the ingredients for smoking andThe first step in many Batak Karo ceremonies is the giving of kampil to family members betel chew . tobacco, matches or a lighter, sirih and other betel chew ingredients and small food items. The gifts are consumed as friendly conversation is enjoyed. When finished, the basket is returned empty and the ceremony can begin.

Discussions ensue between the two families . to determine if everyone is in agreement with the marriage, what the dowry will be, where the wedding will be held, how many people will be invited, what the wedding will cost, and who will pay for it. Men and women are separated during these discussions, with the men making all the decisions.

Following the successful conclusion of marriage negotiations in the ngembah belo selambar, either on the same day or soon thereafter, the nganting manuk ceremony is held for the symbolic payment of the dowry. Traditionally, the prospective groom's family brings a chicken to the bride's house, as the name of the ceremony implies. Nowadays, the chicken is usually accompanied by a traditional meal.

The bride's family examines the dowry given to them by the groom and his family.The dowry is symbolic of the replacement cost of the loss of the female to the clan. The amount is determined by the bride's family and is the same for all the clan's women who get married. In the Ginting clan the amount is Rp 286,000. If this sum sounds small, note that it was much lower before the monetary crisis, only Rp 120,000. The actual dowry will be paid at the wedding reception to members of the bride's family.

As most Karo Batak are Christian, a wedding ceremony in the church follows the two traditional ceremonies so the church can bless the union. The newlyweds usually dress up in western wedding finery, with an elaborate white dress and suit/tuxedo. The church ceremony must also be followed by a visit to the Civil Registry office to ensure the government legally registers the marriage.

The Wedding Reception

Anyone who has ever been to a Karo Batak wedding reception can see that the Karo sure know how to enjoy a wedding party, which they refer to as the Kerja si
mbelin (pesta besar), or big party. The Karo bring new meaning to the adage, "Eat, drink and be merry" as a good time is had by all attending family and friends.

The Procession

The wedding party enters the reception hall in a long processional with the bride and groom leading the way, - The bride and groom enter the reception hall in a procession followed by their families.followed by the bride's parents, the groom's parents and then the close family members, grandparents, aunts, uncles and cousins. The groom's anak beru throw rice in front of the couple, to symbolize fertility.

As the procession reaches the center of the hall, it stops and the family members separate with the bride's family sitting on woven mats (tikar) on one side of the hall, and the groom's family sitting on mats on the other side of the hall, facing each other. One distinctive feature of a Karo Batak wedding reception is that guests are seated on mats, not on chairs.

After the dowry is paid, the bride and groom are dance the landek for their guests in the middle of the reception hallThe anak beru of the bride's family cross the room to offer traditional kampil gifts to the groom's family as a sign of respect, though they don't necessarily have to partake of the contents during the reception.

The women of the bride's and groom's family then discuss the dowry that was agreed upon, and the groom's family pays the dowry to the members of the bride's family present at the ceremony. Even if they each receive Rp 500 or Rp 1,000, they feel compensated!

The groom's family formally states that since they've paid the dowry they would like to assume possession of the bride. Both families stand and escort the bride and groom to meet in the center of the room, all doing the traditional As the bride and groom sing and dance for their guests, people come forward and drop money into the basket as a gift to the happy couple.landek dance. Since the dowry has been paid and accepted, according to Batak tradition the couple is now considered married.

The families return to their respective sides of the room and the bride and groom are left dancing in the center of the room, with all eyes on the newlyweds. They dance the landek and sing to entertain their guests. As they sing and dance, family and friends come forward and put money in a basket at their feet as wedding gifts. The money is a modern custom and is not required by traditional customs (adat).

When the newlyweds finish entertaining their guests, they are accompanied by their families who dance the landek down the hall to the stage (pelaminan) where the bride and groom sit in a highly decorated setting with both sets of parents. In this instance, since Heinz was adopted into the Brahmana marga, his adoptive parents were onstage, as well as his actual brother and sister who flew in from Germany for the festive occasion.

Speeches

After the family members are seated, the speeches begin. The first speeches are given by representatives of the groom's family, followed by the bride's family representatives. Both begin with speeches from their sembuyak, then the kalimbubu, and finally the anak beru. The newlyweds descend from the stage and stand before the various family groups as they give them advice on marriage, and how to maintain good relations with their in-laws and other family members.

At Heinz and Merry's reception the truly international flavor of the event led to speeches in Bahasa Indonesia, German, English, and of course the Batak Karo dialect.

As the various family groupings come forward and the representative gives the advice to the newlyweds, anyone within that family grouping who wants to give a gift to the couple comes forward and does so.

Traditionally, close family members give textiles to the couple. These include uis nipis, batik and other textiles,Family members give the newlyweds traditional textiles, which they wrap around the wedding couple as a symbol of togetherness and anticipated fertility which are closely wrapped around the couple's shoulders, bringing them close together, symbolizing the togetherness of marriage. A batik selendang is often wrapped around the couple as a symbol of hoped for fertility as the selendang will one day hold the children that will come from the union. These ritual gift exchanges between the bride-giving and bride-receiving sides of the families are believed to increase fertility in the marriage.

Another traditional gift is the luah berebere. These practical household items are given by the bride's maternal uncle's family (kalimbubu). They symbolize the setting up of the newlywed's household. Traditionally, luah Presentation of the traditional luah berebere gifts to the newlyweds from the bride's maternal uncle's family.berebere includes: mattress, pillows, sheets, dishes, glasses, silverware, an oil lamp, rice and bowls. In addition to the practical items, food is given which must include one chicken egg and two live yellowish-color hens, which symbolize fertility for the new couple.

When the wedding reception is concluded tradition demands that the bride and groom must return to the groom's family home and reside for four days and nights, without ever leaving the home for any reason. This practice dates Traditional gifts, luah berebere, are given from the bride's maternal uncle's family - household essentials including lamps, dishes, mattress and moreback to ancient pre-Christian customs where the groom's family prevented the possible kidnapping of a reluctant bride by a thwarted lover.

The elaborate ceremonies in a traditional Karo Batak wedding are filled with symbolic rituals and customs. These customs ensure the acceptance of the new union by their new families, establish the intricate relationships that will govern their lives and provide the opportunity for family members to extend advice and good wishes and give gifts to the happy couple. A Karo Batak wedding is a richly meaningful life-cycle event, enjoyed and celebrated by all the members of the families involved.

Traditional Wedding Dress

As in all traditional Indonesian wedding ceremonies, the wearing of elaborate traditional clothing is required. Heavy ornamentation with accessories and layers of various fabrics utilize colors and designs which are highly symbolic to the Karo Batak.

The bride's heavy headdress is called tudung gul. The groom's hat is called bulang-bulang. The bride and groom Heinz Kathmann and Rose Merry Ginting in traditional Batak Karo wedding dressare both adorned in a variety of gold accessories, called emas sertali. These include earrings, necklace and bracelets. While solid gold heirloom accessories are lent to young brides by their female relatives, many modern brides opt for gold-plated accessories, as they are much lighter to wear. The solid gold accessories can weigh over 2 1/2 kilograms.

The traditional Batak ulos textiles used in the wedding dress are all called uis nipis. However, they have different, special names when used in wedding dress, dependent on where they are worn on the body.

The uis nipis worn over Heinz's shoulders was the one given him during the ceremony to enter the Brahmana marga and is called langge-langge. The bride is wearing a sarong songket Palembang, and over that a red uis nipis which is called ndawa when worn wrapped around the hips in the wedding costume. The black textile that is worn by both bride and groom is called julu.

by Danielle Surkatty
First published in Kem Chicks' World in September 2001.

Note: Please note that Karo Batak wedding traditions vary, depending on the area that the person is from!

raziey

Monday, August 4, 2008

Prambanan

Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.

Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.

Nah, masih banyak lagi yang bisa digali di Prambanan. Anda tak boleh jemu tentunya. Kalau pun akhirnya lelah, anda bisa beristirahat di taman sekitar candi. Tertarik? Datanglah segera. Sejak tanggal 18 September 2006, anda sudah bisa memasuki zona 1 Candi Prambanan meski belum bisa masuk ke dalam candi. Beberapa kerusakan akibat gempa 27 Mei 2006 lalu kini sedang diperbaiki.

taken from: yogyes.com
raziey
&affid=2368&output=js">