Wednesday, February 11, 2009

wisata pantai barat aceh


Aceh barat memiliki kawasan pantai yang paling indah di seluruh Provinsi Aceh. dan pantai ini langsung berhadapan dengan laut lepas Samudera Indonesia. Di beberapa tempat. pantainya berdinding tegak dipagari oleh bukti-bukti berhutan lebat. Pada sore hari. pantai Aceh barat menampilkan pesona yang sangat mengesankan karena merupakan daerah tempat tenggelamnya matahari.

Wisatawan yang melakukan perjalanan dari Banda Aceh ke selatan menyusuri pantai barat akan menikmati panorama pantai yang sangat indah dengan latar belakang pemandangan bukit-bukit yang ditutupi hutan. Pantai Samudera Indonesia yang berada di kawasan ini membentang dari utara ke selatan seolah tanpa pernah terputus. Menyusuri pantai barat Aceh ini mulai dari ibukota Banda Aceh berakhirnya di Singkil. kota yang terletak diujung paling selatan provinsi ini wisatawan bisa menikmati keindahan alam namun sayangnya belum di dukung infrastruktur yang baik.

Kota-kota disepanjang Pantai Barat ini adalah Calang, Meulaboh, Tapaktuan, Pulau Simeuleu, Teluk Jamin, Singkil dan Kepulauan Banyak. Ketika gempa dan tsunami menghantam Provinsi Nangroe Aceh Darussalam 26 Desember 2004 lalu kota-kota inilah yang mengalami kerusakan.

Calang adalah sebuah kota kecil yang terletak 140 Km selatan Banda Aceh dengan pantainya yang sangat bagus. Untuk menuju ke tempat ini. Anda dapat menumpang kendaraan bis umum dan Banda Aceh ke Calang-dengan waktu tempuh sekitar tiga jam.

Meulaboh berjarak 250 Km di selatan Banda Aceh yang dapat ditempuh dengan menggunakan bis umum. Dianjurkan untuk tidak berenang di pantai yang berada di de kat kota karena memiliki arus yang kuat dan berbahaya untuk tempat bermain. berenang di Meulaboh adalah di Lhok Bubon yang berada 16 Km utara
Meulaboh.

Tapaktuan terletak sekitar 200 Km di selatan Meulaboh dan merupakan kota terbesar di Aceh Selatan. Perjalanan ke Tapaktuan dari Banda Aceh ditempuh selama 11 jam dengan menggunakan kendaraan umum, namun orang umumnya lebih suka singgah dulu di Meulaboh (6 jam) sebelum melanjutkan perjalanan lebih ke selatan lagi.

Tapaktuan dapat digunakan sebagai pangkalan (basis) untuk melakukan eksplorasi ke kawasan Kluet 45 Km selatan Tapaktuan yang merupakan bagian dari wilayah Taman Gunung Leuser. Bagi mereka yang menyukai burung maka Kluet merupakan tempat yang bagus untuk melakukan pengamatan terhadap hewan tersebut. Pantai Tu`i Lhok yang berada 18 km utara Tapaktuan merupakan pantai yang paling bagus di kawasan Tapaktuan. Di dekat pantai ini terdapat sebuah air terjun kedl dimana wisatawan dapat mencud badan setelah berenang di laut. Air terjun yang lebih besar terdapat di Pantai Air Dingin yang berada di selatan Tu`i Lhok.

Pulau Simeulu adalah pulau terpendl yang dikenal karena hasil perkebunannya yaitu eengkeh dan kelapa, selain itu tidak ada lagi yang dihasilkan dari pulau ini. Pulau yang berlokasi 150 Km dari lepas pantai Tapaktuan ini memiliki suasana yang tenang dengan penduduknya yang ramah. Untuk menuju ke pulau ini dapat menumpang kapal dari Meulaboh ke Sinabang atau pesawat udara tiga kali seminggu dari Medan via Meulaboh. Teluk Jamin adalah sebuah desa pantai yang terlerak 70 Km selatan Tapaktuan dan merupakan salah satu tempat keberangkatan untuk menuju ke Kepulauan Banyak. Untuk menuju ke tempat ini dapat menumpang bis urn urn yang banyak melewati Teluk Jamin dalam perjalan menuju ke Tapaktuan di utara dan Subulussalam dan Sidikalang di selatan.

Singkil adalah kawasan pelabuhan yang berada di mulut Sungai Alas. Sebagaimana Teluk Jamin maka Singkil merupakan pelabuhan utama bagi mereka yang akan berangkat menggunakan kapal menuju Pulau Banyak. Jika Anda ingin berangkat dengan kapal ke Pulau Banyak maka berarti Anda harus menginap di salah satu dari empat losmen yang terdapat di tempat ini yaitu: Indra Homestay, Harmonis, Purnama dan Favorit dengan tarif sekitar Rp 60.000.



raziey

wisata pantai aceh


Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sempat menjadi daerah tujuan wisata andalan Indonesia. Propinsi paling barat Indonesia ini menjadi salah satu alternatif utama tempat para pelancong merelaksasi diri. Hutan alam, panorama laut dan nuansa tradisional menjadi tempat sempurna untuk memanjakan fungsi panca indra.

Lantas era gemilang pariwisata Aceh itu semakin lamban berdenyut menjelang tahun 1980-an akhir. Kunjungan turis lokal dan manca negara menurun drastis seiring dengan semakin mencuatnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai masalah nasional. Lantas darurat militer silih berganti dengan darurat sipil. Dan terakhir, bak sim salabim, tsunami mengubah semuanya, menciptakan kerusakan maha dahsyat.

Kerusakan masif akibat gelombang air laut ini, melebur semua imaji tentang indah bumi Aceh, terutama di sepanjang tepian laut. Pantai tiba-tiba menjadi tempat menakutkan, karena banyak memakan korban saat gelombang air naik. Semua di tepiannya musnah.

Saat berkunjung ke Aceh sejak Desember 2004 hingga Februari 2005 lalu, penulis sempat meninjau derah-daerah yang selama ini menjadi daya tarik pariwisata Aceh itu. Merekam jejak-jejak tersisa di Banda Aceh dan sekitarnya.

Pantai Lhoknga

Semuanya memang menyedihkan. Kehancuran itu sudah tergambar di semua media, terutama yang berada di sepanjang garis pantai Banda Aceh dan Aceh Besar. Misalnya di Pantai Lhoknga, Aceh Besar, sekitar 17 kilometer dari Banda Aceh, ibukota NAD.

Pantai ini, yang jaraknya sekitar 300 meter dari pabrik PT Semen Andalas, sebelumnya selalu dipenuhi pengunjung saban hari Sabtu dan Minggu. Rata-rata 500-an orang mandi di pantai hingga pukul 10.00 Wib. Setelah itu sarapan pagi dengan menu ikan bakar, di pondok-pondok milik warga. Sementara sore hari, adalah waktu menunggu terbenamnya matahari.
Berdiri di tepiannya sambil membiarkan kaki dijilati ombak, mata akan lepas memandang ke arah Laut Indonesia. Angin akan meliukkan pucuk-pucuk cemara di sekitar pantai. Bukit di sebelah kanan, yang di sebaliknya adalah dermaga Semen Andalas, mengingatkan kita akan Tanah Lot, Bali. Bedanya, tidak ada pura di sana. Sementara di belakang, perbukitan hijau menyejukkan. Keempat arah mata angin adalah kemanjaan bagi mata. Pantai teduh dengan pasir putih dan air laut menghijau.

Keindahan alami Lhoknga itu, masih bisa dirasakan hingga kini. Deru angin dan ombak di sana masih seperti semula. Perbedaan hanyalah pada rasa. Takut saat mencecahkan kaki ke pantai yang kini semakin banyak karang-karang laut. Ada kekhawatiran, bagaimana jika tiba-tiba ombak besar datang menggulung? Kemana harus berlindung. Bukit di belakang pantai ini, tidak akan terdaki dengan cepat. Sudah sedemikian terjal. Gerusan tsunami menjadikan dindingnya tonjolan-tonjolan batu cadas sebesar mobil. Sementara bibir jalan aspal di bawahnya sebagian besar retak dan hancur.

Jika tsunami datang lagi, tak mungkin juga rasanya melarikan diri ke pabrik Semen Andalas. Kehancuran diakibatkan tsunami pertama, sungguh mengerikan. Tangki timbunnya bergeser beberapa meter. Dua kapal melintang di tengah jalan, sementara satu kapal lainnya terbalik di dermaga.

Dermaga itu sendiri, kini sudah hancur dinding-dinding tebalnya. Menjadi pemandangan terbuka. Sebuah gua ternyata ada di dalam komplek dermaga. Selama ini gua sepanjang 20 meter itu tidak terlihat dari luar karena tertutup dinding komplek.

“Saya baru tahu di sini ada gua. Memancing di sini lebih teduh,” kata Abullah Gamak, warga Banda Aceh berusia 38 tahun.

Kerinduan akan suasana pantai Lhoknga, membawa Gamak dan puluhan warga Banda Aceh dan Aceh Besar datang ke pantai ini setiap sore. Nuansa baru Lhoknga dari dermaga dan dua kapal yang melintang di tengah jalan, menjadi alasan berikutnya.

Pantai Lampuuk

Kondisi di Pantai Lampuuk, pantai yang lebih dahulu dijumpai jika berangkat dari Banda Aceh, juga tidak jauh berbeda. Pantai ini menjadi salah satu objek wisata andalan Aceh Besar dengan kualitas pantai sama baik dengan Lhoknga. Ketika masa sebelum bencana alam datang, di pantai ini banyak pedagang sea food. Ikan, kepiting, cumi dan udang di jual dengan harga yang murah. Aromanya menyebar dari setiap warung.

Kini yang terbentang adalah hamparan luas bebas. Tak ada lagi pondok-pondok penjual ikan. Sekitar 20 meter dari bibir pantai, sebuah timbangan tergeletak dekat barisan pohon cemara. Berserak bersama batu karang dan sampah. Bergabung dengan plang bekas sebuah kafetaria.

Beberapa meter di samping kanannya, sebuah pusara sekedarnya dibuat untuk korban tak dikenal. Tak ada nama, hanya sebuah batang kayu kering diletakkan di atas gundukan pasir. Pasar tradisional nyaris tak bisa ditandai lagi. Plang nama jalan diletakkan di tumpukan kayu dan ranting sebagai penanda.

Lapangan golf di Kelurahan Mon Ikeun, di sekitar Pantai Lampuuk hanya tersisa sebagian saja rumput-rumputnya. Ini tempat karyawan Semen Andalas biasa berolahraga. Mengayunkan stick golf sambil mendengar deru ombak, sementara baju yang dipakai melambai diterpa angin.

Kondisi Lhoknga dan Lampuuk, merupakan gambaran umum keadaan pariwisata pantai di Aceh pasca tsunami. Tidak berbeda dengan Meulaboh, Calang dan Sabang. Semua memang tak sama lagi. Guncangan kuat dan derasnya air mengubah semuanya. Seperti tumpahnya sekaleng cat pada kanvas lukisan. Perlu waktu memulihkannya.

from:khairulid.blogspot.com



raziey

Thursday, January 8, 2009

Old Islamic ritual held in Bali


Andra Wisnu, , The Jakarta Post, , Denpasar

Emansyur, 68, stood near the entrance of the Assyuhada Mosque, the only one in the Bugis village of the Serangan sub-district, in the late afternoon on Tuesday.

In front of him, a number of people laid down a brown box on a short table. From within he pulled out a dilapidated Koran, its pages jutting out. A relic from the 17th century, according to a scholar from Udayana University, he said, the same age as the mosque he was standing in.

Emansyur, along with dozens of other villagers, was about to do the Magalici Koran (Buginese, which literally translates as "carrying the Koran around") ritual, during which they parade the Koran around the village while chanting prayers, stopping at the four corners of the village to sound the call for prayer, or Adzan.

"The point of this ritual is to protect this village from any harm, because I remember when this village stopped performing this ritual a number of decades ago, a smallpox plague fell upon us, killing people and destroying lives," Emansyur said Tuesday.

"But since we began doing the ritual again, no harm has befallen this village. In fact, it has prospered."

There are no records of such an outbreak in the Bugis village, but in Bali, where ancient Indonesian mystical roots have a firm grasp, age-old Islamic beliefs, rituals and artifacts, it seems, maintain a place in the hearts and minds of Muslims.

Emansyur began to call on all the villagers using a megaphone, asking them to join him in carrying the Koran around the village.

Men and their children joined, chanting prayers together as women and Hindus, who were obviously familiar with the annual ritual, watched from their homes.

The Magalici Koran is celebrated every Muharram 9 on the Islamic calendar, the day before Shia and Sunni Muslims recognized the death of Muhammad's grandson, Husain Bin Ali, during the war of Karbala in 680 A.D.

Also known as the day of Asyura, it is celebrated in Shia dominated countries as a day of mourning. In Iran, it is notably celebrated with a parade of self-flagellating Muslims.

The carrying of the Koran is unique to this Bugis village, a small hamlet within the Serangan island that is dominated by Muslims of the Bugis ethnicity, one of the largest ethnic groups of South Sulawesi.

Emansyur himself was born in Bali, and could not recall when his ancestors first immigrated to Bali, nor could he recall when the 17th century Koran was brought over.

However, he is one of the few elders in the village who continues to preserve the ritual.

"This Koran is very important to us, and we've learned that it is important to continue performing our ancestors' ritual," Emansyur said.

That feeling has seemed to pass on, Loh Ali, 32, another native of Bugis village, said.

"I've been doing this since I was born. Whenever we have the Magalici Koran I join because I believe that it is important to maintain peace," he said.

But the age of modernity and progress has forced even this small hamlet to change its age-old rituals.

The entourage walked around the village three times, stopping four times on the village's corners to sound the Adzan on each lap, a change from about 30 years ago, Loh Ali said, when the entourage would walk around the village while carrying the Koran once a day for three days.

"It was changed because, apparently, they felt like people were too busy to spend three days for a religious ritual," he said.

The surrounding villages in Serangan have asked Emansyur, who is a noted elder in the village, to expand the ritual to surround the island.

When asked whether the request was made to make the island more attractive to tourists, Emansyur said that, "it probably just means they approve of our ritual."

Source: The Jakarta Post




raziey

up date Indoneisa visit

The number of foreign visitor went through all the entrance in November 2008 numbered 524,162 visitor arrivals or the growth of 9.94% compared to the same month in 2007 numbered 476,782 visitor arrivals.

The number of foreign visitor (excursionist) in November 2008 numbered 14,477 visitor arrivals or the growth of 17.37% compared to the same month in 2007 numbered 12,334 visitor arrivals. The number of foreign visitor and the excursionist numbered 538,639 visitor arrivals or the growth of 10.13%.

The number of foreign visitor on November 2008 compared to the same month in 2007, came from the main entrances and the other ports, that is Ngurah Rai totalled 172,813 visitor arrivals or growth or 16.46%, Soekarno-Hatta totalled 117,008 visitor arrivals or growth of 6.15%, Juanda totalled 13,858 visitor arrivals or growth of 16.76%, Tanjung Pinang totalled 9,272 visitor arrivals or growth of 0.54 %, Tanjung Priok totalled 6,098 visitor arrivals or growth of 1.16%, Minangkabau totalled 3,320 visitor arrivals or growth of 136.39%, Sam Ratulangi totalled 2,032 visitor arrivals or growth of 13.84%, Sultan Syarif Kasim Ii totalled 2,008 visitor arrivals or growth of 48.08%, Sepinggan totalled 1,111 visitor arrivals or growth of 38.53%, Mataram totalled 1,037 visitor arrivals or growth of 4.01%, Makassar totalled 924 visitor arrivals or growth of 141.25% and the other ports totalled 90,579 visitor arrivals or growth of 17.37%.

The number of foreign visitor who experienced decline was Batam totalled 90,102 visitor arrivals or decreased -1.52%, Polonia totalled 11,134 visitor arrivals or decreased -0.52 %. Entikong totalled 1,672 visitor arrivals or decreased -4.13%, Adi Sumarmo totalled 1,194 visitor arrivals or decreased -33.89%.

In January to November 2008 the number of foreign visitor and the excursionist totalled 5,801,847 visitor arrivals or growth of 12.41% compared to the same period in the previous year totalled 5,161,325 visitor arrivals.

The number of foreign visitor cumulatively increased in the period of January to November 2008 compared to the same period in 2007 came from the main entrances, that was Ngurah Rai totalled 1,932,517 visitor arrivals or growth of 20.18%, Soekarno-Hatta totalled 1,443,190 visitor arrivals or growth of 21.72%, Sepinggan totalled 162,487 visitor arrivals or growth of 12.09%, Polonia totalled 113,699 visitor arrivals or growth of 7.82%, Tanjung Pinang totalled 110,460 visitor arrivals or growth of of 3.46%, Minangkabau totalled 33,145 visitor arrivals or growth of 40.05 %, Sam Ratulangi totalled 19,487 visitor arrivals or growth of 10.13%, Adi Sumarmo totalled 17,564 visitor arrivals or growth of 8.84%, Entikong totalled 17,245 visitor arrivals or growth of 6.29%, Mataram totalled13,171 visitor arrivals or growth of 6.04%, Sepinggan totalled 10,581 visitor arrivals or growth of 23.38%, Makassar totalled 4,760 visitor arrivals or growth of 46.19% and the other ports totalled 897,190 visitor arrivals or growth of 2.70%.

The number of foreign visitor cumulatively declined in the period of January to November in 2008 that was Batam numbered 948,596 visitor arrivals or decreased -1.24%, Tanjung Priok numbered 62,555 visitor arrivals or decreased -0.68%, Sultan Syarif Kasim Ii numbered 15,200 visitor arrivals or decreased -0.85%.

The highest number of foreign visitor in the period of January to November 2008 compared to the same period in the previous year (2007) that was Russia numbered 59,870 visitor arrivals or growth of 49.38%, Australia numbered 353,833 visitor arrivals or growth of 48.40% and China numbered 256,130 visitor arrivals or growth 42.82% (Data and Network Center).



raziey

Tuesday, September 23, 2008

Mengungkap Rumah Adat Masyarakat Belitung (Belitong/Biliton)

Kehidupan masa kini Belitong adalah bagian dari masa lalunya, sejarah telah mengantarkannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kebudayaan yang lebih luas. Kebudayaan masa lalunya; adanya kerajaan yang berdaulat, oleh raja yang memimpin rakyatnya dengan arif dan bijak selama turun-temurun.

Itu memaknai bahwa sistim kepemimpinannya memakai garis-garis haluan hukum yang adil hingga kemudian tatanan kebudayaan dan peradaban itu dirusak oleh penjajah Belanda yang ingin menguasai kekayaan timahnya. Peradaban Melayu Belitong yang tercermin dalam peninggalan sejarah serta yang tertanam dalam pemikiran dan kesahajaan masyarakatnya; bahasa, rumah, matapencaharian, pemeliharaan hutan, tradisi ritual, kerukunan, dan lain sebagainya merupakan cermin dari sejarah masa lalunya yang arif.

Pengetahuan ini tentu belum menjadi milik umum Bebarapa bagian tulisan yang diturunkan lewat media ini adalah substansi dari sejarah yang pernah ada dan kini masih tersimpan dalam ingatan para sepuh dan manuskrif yang pernah ditulis pada tahun 1937 oleh pendahulu mereka yaitu K.A. Haji Abdul Hamid, karenanya Penulis amat berterima kasih sedalamnya kepada seluruh keluarga besar Kerukunan Keluarga Cakraningrat, serta ketua Sepuh Adat Keluarga Besar Cakraninggrat, Datuk Mpu K.A. Idris Alie.

Rumah adat merupakan identifikasi mutlak sebagai sebuah perwujudan identitas budaya dan kebudayaan sebuah bangsa; etnik yang menempati sebuah kawasan yang mempunyai garis tegas tentang perangkat adat untuk mengatur wilayah adatnya. Maka rumah adat bukan hanya sebagai perangkat pemersatu; tempat bertemu, membahas segala persoalan yang menyangkut tentang kehidupan baca berkebudayaan; norma, hukum, ekonomi, politik, kesenian, bahkan adat istiadat atau tradisi keseharian, bahkan menyangkut hal yang bersipat insidentil seremonial.

Tetapi lebih daripada semua itu, ia sebagai tempat sublimasi bagi generasi muda; pada masa lampau semua tentang pengajaran agama di ajarkan di sana. Rumah adat seperti yang diidentifikasikan tersebut sudah pernah ada di wilayah adat Belitong. Rumah adat tersebut dibangun oleh para kepala adat wilayah Belitong yaitu para Depati yang memerintah pada tiap-tiap zamannya.

Seperti kita ketahui bahwa pemerintahan yang pertama di Belitong ada di kawasan Balok (Belantu) yang di kenal dengan Kerajaan Balok Lamak, pemerintahan di kawasan itu di perintah oleh Kiai Mas'ud atau dikenal juga dengan sebutan Kiai Gegedeh Ya'kob yang merupakan keturunan langsung Bupati Mataram pertama (Kiai Gede Pamanahan 1546-1582) yaitu Kiai Mas'ud atau sebagai Depati Cakraningrat I (pertama) dan kemudian menurunkan trah sampai kepada Depati cakraningrat ke IX (Depati yang memerintah di Kota Tanjung Pandan mulai dari Depati Rahad sebagai Depati Cakraningrat ke VIII hingga Depati Endek sebagai Depati terakhir atau ke X) Rumah adat tersebut selalu dibangun tidak jauh dari rumah tinggal Depati yang memerintah pada masanya.

Karenanya di masa-masa terakhir pemerintahan para depati Cakraninggrat atau sebelum peran Depati selaku pimpinan yang berperan secara adat "dilenyapkan" oleh pemerintah Kolonial Belanda, rumah adat yang terakhir tersebut ada di jantung kota Tanjung Pandan berdiri di dekat mesjid Jami' Kota Tanjung Pandan dengan sebutan Rumah Gede.

Rumah Gede tersebut setelah ketiadaan pemerintahan Depati (pemerintahan yang diatur secara adat menurut aturan kerajaan yang turun temurun) Maka pemerintah Belanda mengangkat orang yang dianggap bisa diarahkan dan dikendalikan oleh Penguasa Belanda (sejak pemerintahan Depati K.A. Rahad, Trah keluarga Kerajaan sempat dipinggirkan oleh Belanda dengan politik adu domba yang dikenal dengan sebutan Devide Et Invera dan Depati K.A. Rahad tidak mendapat mengakuan oleh Belanda.

Pada tahun 1826 belanda menempatkan Pangeran Syarif Hasyim dari Palembang. Pemberontakan meletus dan Pangeran Syarif Hasyim meningal dunia, kemudian tahun 1837 Belitung di pimpin oleh Mas Agus Asik dari Pulau Lepar sampai tahun 1838 dan kemudian kekuasaan diserahkan kembali kepada Depati Rahad dan ia baru dilantik dengan gelar Cakraninggrat ke VIII pada 1juli 1838 hingga meninggal dunia tahun 1854.kedian digantikan oleh adiknya K.A. Mohamad Saleh Untuk mengurangi pengaruh Depati terhadap rakyatnya, pada tahun 1873 pangkat Depati dihapus oleh Belanda.

Sedang pada tahun 1879 hingga tahun 1890, pangkat Depati diadakan kembali oleh Belanda dan Belanda mengangkat K.A. Endek yaitu keponakan yang juga menantu dari K.A. Mohamad Saleh dengan gelarDepati Cakraningrat ke X. gelar ini tidak diakui oleh rakyat karena pemberian Belanda) Rumah Adat Masa Lalu Pada masa kolonial Belanda, peran rumah adat di Belitong menjadi kurang berfungsi karena campur tangan Belanda dalam menentukan kebijakan Depati selaku pemegang keputusan adat terhadap rakyatnya bahkan Belanda serlalu campur tangan dalam menentukan Kekuasaan Depati; hingga keputusan depati selalu tidak dibahas diam-diam tidak di rumah adat. (Perlu ditegaskan hukum adat, adalah hukum yang juga mencakup hal ihkwal keseharian, seperti tradisi perniagaan, pertanian, mengolah hasil alam; hutan dan pertambangan timah) sudah dikacaukan oleh Belanda karena Belanda menginginkan keuntungan secara ekonomi.

Sedang perihal adat yang menyangkut tradisi ritual seperti memang tidak dicampuri oleh Belanda, seperti adat perkawinan dan perayaannya atau begawai, adat selamatan anak yang lahir, adat selamatan kampong, adat selamatan tahun. Rumah adat atau Rumah Gede tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena Belanda telah mengintervensi segala kebijakan Depati yang di akui oleh rakyatnya dengan berpegang pada adat, yaitu hukum tradisi sejak kerajaan pertama didirikan.Tetapi rumah adat yang ada di kota Tanjung Pandan tetap berdiri hingga akhir tahun 1950.

Fungsi rumah adat atau rumah gede tersebut setelah era kemerdekaan hanya dimanfaatkan sebagai tempat mengaji atau belajar membaca alquran oleh masyarakat setempat. Kemudian musnah dikarenakan tidak adanya lagi perhatian, baik dari pihak pemerintah maupun pihak keluarga Depati. Fungsi esensial rumah adat di zaman Belanda sudah ditiadakan, seiring dengan peran Depati yang sudah dipinggirkan oleh Belanda.

Tetapi rumah adat sebagai alat pemersatu tempat para tetua bermusayawarah dan mufakat, tempat kesenian digelar, tempat bermacam tradisi adat digelar, tentu tidak terkikis habis dalam pikiran tiap anak negeri Belitong. Karena itu sebagai anak negeri yang merdeka dari kungkungan penjajah, anak negeri yang mau membangun dan memfungsikan Rumah Adat itu kembali guna disesuaikan dengan kebutuhan masa kini, perlu kita dukung dengan sepenuh hati. karena ia tidak hanya sebagai simbol sebuah eksistensi sebuah negeri yang beradat tapi lebih dari itu, sebagai barometer kedepan; bahwa spirit anak negeri tidak semata dibangun dengan materi sebagaimana yang di anut oleh paham hedonisme masa kini.

Fungsi rumah adat Belitong untuk masa kini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan kebudayaan saat ini. antara lain tidak hanya sebagai simbolisasi kenegerian (bahwa wilayah Belitong adalah wilayah adat yang otonom, pernah ada kerajaan dan pemerintahan yang pada masanya ada hukum adat yang mengatur segala norma kehidupan atau penghidupan masyarakatnya) tetapi juga rumah adat tersebut akan berfungsi sebagai objek studi, wisata, rumah pergelaran kesenian, pergelaran adat tradisi, bahkan sebagai rumah duta di mana para sesepuh adat; pemimpin negeri, penghulu adat, pemangku adat dari luar wilayah adat dapat saling bersitalurahim dengan takzim.

Sebagai objek studi dan wisata, tentu kita akan mendapat gambaran yang realistis tentang sejarah yang pernah ada, sementara yang sudah tertanam di dalam pemikiran sebagian masyarakat bahwa sejarah Belitong hanya ada tergolek pada benda-benda sejarah di museum kota Tanjung Pandan dan museum Badau. Tentu itu hanya sebagian kecil dari pernak-pernik sejarah. Bagaimana sejarah lainnya, seperti tradisi pemerintahannya dari masa ke masa, tradisi keseniannya, tradisi adat istiadat lainnya.

Replikasi dan pergelaran yang menyangkut hal ikhwal kebudayaan tersebut bisa di gelar di rumah adat tersebut. Spirit Rumah Adat Membangun rumah adat yang refresentatif tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan meski pemerintah memberikan dukungan penuh karena rumah adat erat kaitannya dengan masa lalu yang sudah menjadi sejarah, bukan saja sejarah adatnya tapi juga peran dari para keluarga depati selaku pewaris pelaksana adat sebagaimana yang telah diturunkan oleh para nenek moyang terdahulu.

Dan tak kalah pentingnya adalah bahwa masyarakat mesti menerima ini sebagai sebuah kekayaan negeri, sebuah eksotisme yang tak dimiliki wilayah lain; bahwa Belitong merupakan sebuah wilayah yang bersatu secara adat; bahasa melayu Belitong yang sampai kini tetap terjaga di hampir setiap sudut manapun di wilayah Belitong, kerukunan masyarakat, kemufakatan antarwilayah, masyarakat yang rendah hati, kearifan lokal terhadap lingkungan alam. (Pembabatan hutanoleh pengusaha adalah cerita lain yang tak terpungkiri) sebagai rakyat asli akan berpikir seribu kali untuk menghianati kearifan lokal, kecuali ia betul-betul penghianat dan tak tahu adat!

Eksotisme yang telah tumbuh secara adat turun temurun; tradisi lokal begalor, bertani, melaut, berburu, bebanjor, nirok, nanggok, dan mengekploitasi hasil hutan, setidaknya kini masih ada dalam sisa ingatan orang-orang Belitong moderen tetapi masih dilakukan sebagian masyarakat di desa-desa tradisional Belitong. Kearifan lokal, eksotisme adat, bahasa melayu Belitong; adalah spirit yang terbangun sejak kerajaan dengan pemimpinnya yang bijak. Ketentraman Belitong akan selalu terjaga jika tidak dirusak oleh orang-orang yang tahu adat Belitong.

Perlu dicatat kerendahhatian Masyarakat Belitong terhadap siapa pun, orang manapun. adalah cerminan dari turunan terdahulu. (sejarah mengingatkan; masuknya Kiai Mas'ud atau Kiai Gegedeh Ya'kob dari Kerajaan Mataram abad ke 15 dan kemudian menaklukan kerajaan kecil yang masih menganut hindu di Belitong) bukan semata ia haus kekuasaan tapi lebih dikarenakan ia hanya ingin hidup tentram bersama rakyatnya! Akar ketentraman adalah kearifan.

Karenanya selama pemerintahan turunan Cakraningrat di Belitong tidak pernah terjadi pertumpahan darah karena perebutan kekuasaan dan penghianatan. Kecuali adanya hegemoni dari pihak luar sekitar tahun 1755 (masuknya Tengku Akil dari kerajaan Siak untuk menguasai Belitong dan kemudian membunuh Raja K.A. Mohamad Hatam atau Cakraninggrat ke VII yang berkedudukan di Hulu Sungai Cerucuk) hingga kemudian anaknya K.A Rahad meski membuat pertahanan di muara Suangai Cerucuk dan mendirikan kerajaan baru yang kini menjadi kota TanjungPandan.

Sebuah rumah adat mesti memiliki aura atau ruh yang menjaga keagungan dan keanggunannya baik secara fungsional maupun visional. Dalam hal ini tentu tidak akan dibangun hanya semata berdasarkan pada keinginan atau pemenuhan pada infrastruktur yang lazim sebagaimana kita membangun kebutuhan sarana publik karena ia memiliki semacan aura yang tegas!.Pada masa dulu munculnya aura ini karena ada wibawa raja dan kesetiaan rakyatnya. Maka sebuah rumah adat masa dulu sebagai sebuah rumah dimiliki secara komunal untuk kepentingan bersama dibawah aturan adat dan wibawa raja hingga rumah tersebut menjadi terjaga dan terpelihara.

Namun ketika kini akan diwujudkan dalam masa yang berbeda tetapi aura dan ruh yang akan tertanam teentu akan menjadi berbeda namun tingkat kecerdasan masyarakatlah yang akan mendukung aura tersebut bahwa mereka adalah pewaris dan pemelihara kekayaan eksotis tersebut. Hal itu tentu mesti memperhatikan spirit yang pernah ada bahkan hingga kini spirit itu masih tersimpan sebagai pusaka adat; baik itu yang bersipat pemikiran (keturunan dari pelaksana atau pemangku adat), materi (benda-benda pusaka), atau aturan adat (baik tertulis maupun lisan yang diwariskan secara turun temurun baik di masyarakat maupun di keluarga depati) Bentuk Fisik dan fungsi Rumah Adat Bentuk fisik rumah adat Belitong sangat sederhana, merupakan rumah Panggong; rumah yang ditopang tiang dengan bahan kayu pilihan terbaik. Kesemua bahan bangunan terbuat dari kayu sampai ke atapnya yang disebut dengan atap sirap bangunan terbagi menjadi tiga bagian; ruang teras, ruang tengah atau utama, ruang penyangga, dan ruang belakang.Ruang teras merupakan ruang publik; seperti layaknya ruang santai jadi hal-hal yang tidak begitu penting bisa dibicarakan di sini, bahkan ketika para petinggi kerajaan menonton pertunjukan di halaman Rumah Gede akan selalu duduk di sini.

Ruang utama adalah ruang besar yang bisa menampung banyak orang, tidak memilikisekat atau kamar, tetapi ada partisi artistic sebagai sekat sementara berguna untuk bersalin pakaian dan lain-lain.ruang utama ruang yang selalu terjaga. Ruang perantara selalu ada tangga di sisi kiri dan kanannya, dan ada air wudhu yang di tempatkan di dalam tempayan atau guci. Ruang ini bukan hanya sebagai penghubung antara ruang belakang dan ruang utama, tapi dipakai juga sebagai pintu darurat jika para tamu mau ke toilet karena secara adat kesopanan tidak diperkenankan melewati pintu depan. Pintu depan atau utama hanya boleh dipakai untuk datang dan pulang.

Dan ruang penyangga juga berfungsi sebagai ruang pengatur atau pengarah acara; antara keperluan para majelis yang sedang bermusyawarah di ruang utama dengan keperluan seperti pengaturan konsumsi di ruang belakang, karena makanan para majelis mesti aman dari berbagai ancaman dan keamanan. Ruang belakang merupakan tempat menyimpan semua perkakas keperluan rumah adat dan kepentingan majelis; misalnya rehal untuk meletakkan alquran, tikar untuk sholat,dan lain-lain,bahkan peralatan makan-minum, peralatan sirih pinang, Dan yang terakhir tentu saja toilet yang terletak terpisah dari bangunan utama, ia ada di belakangbangunan utama.

Halaman rumah adat relative lebih luas, selalu dipakai sebagai ruang pertunjukan, tempodulu pertunjukan yang digelar antara lain seperti pencaksilat, beripat rutan, beregong,becampak, musik gambus, tari-tarian, dan lain sebagainya

Penulis adalah Ian Sancin di Begalor.comDirektur Bidang Lintas Sosial Budaya SAPIR INSTITUTE ( sebuah lembaga studi, kajian dan penelitian )





raziey
&affid=2368&output=js">